Peta Administratif Kabupaten Gunungkidul
Kabupaten Gunung Kidul, adalah sebuah kabupaten
di Provinsi
Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia
yang beribu kota di Wonosari.
Kabupaten ini berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah
di utara (Kabupaten Klaten dan Sukoharjo) dan timur (Kabupaten Wonogiri), Samudra
Hindia di selatan, serta Kabupaten
Bantul dan Kabupaten Sleman di barat. Kabupaten Gunung
Kidul terdiri atas 18 kecamatan, yang terdiri 144 desa 1441 Dusun.
Secara geografis
Kabupaten Gunungkidul berada pada 7°46¢ LS-8°09¢ LS dan 110°21¢ BT-110°50¢ BT, dengan luas wilayah 1.485,36 km2 atau sekitar 46,63 % dari luas wilayah Provinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta. Wilayah Kabupaten Gunungkidul
terletak pada ketinggian yang bervariasi antara 0-800 meter di atas permukaan
laut. Sebagian besar wilayah Kabupaten Gunungkidul yaitu seluas 1.341,71 km2
atau 90,33 % berada pada ketinggian
100-500 m di atas permukaan laut (dpl). Sedangkan sisanya 7,75 % terletak pada
ketinggian kurang dari 100 m dpl, dan
1,92 % terletak pada ketinggian lebih
dari 500-1000 m dpl.
Secara
Topografi, Kabupaten Gunungkidul dibagi dalam 3 zona yang berbeda yaitu:
1.
Zona Utara disebut wilayah Batur Agung dengan ketinggian 200m - 700m di
atas permukaan laut. Keadaannya berbukit-bukit terdapat sumber-sumber air tanah
kedalaman 6m – 12m dari permukaan tanah.
Jenis tanah didominasi latosol dengan batuan induk vulkanik dan sedimen taufan.
Wilayah ini meliputi Kecamatan Patuk, Gedangsari, Nglipar, Ngawen, Semin, dan
Ponjong bagian utara.
2.
Zona Tengah disebut wilayah pengembangan Ledok Wonosari, dengan
ketinggian 150m – 200m di atas permukaan laut. Jenis tanah didominasi oleh asosiasi mediteran
merah dan grumosol hitam dengan bahan
induk batu kapur. Sehingga meskipun musim kemarau
panjang, partikel-partikel air masih mampu bertahan. Terdapat sungai di atas
tanah, tetapi di musim kemarau kering. Kedalaman air tanah berkisar antara 60m
– 120m di bawah permukaan tanah. Wilayah ini meliputi Kecamatan Playen,
Wonosari, Karangmojo, Ponjong bagian tengah, dan Semanu bagian utara.
3.
Zona Selatan disebut wilayah pengembangan Gunung Seribu (Duizon
gebergton atau Zuider gebergton), dengan ketinggian 0m – 300m
di atas permukaan laut. Batuan dasar pembentuknya adalah batu kapur dengan ciri
khas bukit-bukit kerucut (Conical limestone) dan merupakan kawasan
karst. Pada wilayah ini banyak dijumpai sungai bawah tanah. Zone Selatan ini
meliputi kecamatan Saptosari, Paliyan, Girisubo, Tanjungsari, Tepus, Rongkop,
Purwosari, Panggang, Ponjong bagian selatan, dan Semanu bagian selatan.
Gambar 2. Peta topografi Kabupaten
Gunungkidul

Secara morfologis daerah pegunungan selatan (Kabupaten
Gunungkidul) merupakan pegunungan
yang dapat dibedakan menjadi 3 satuan morfologi utama, yaitu:
1.
Satuan
morfologi perbukitan berelief sedang sampai curam
Satuan ini dimulai dari daerah sekitar Imogiri di bagian
barat, memanjang ke utara hingga Prambanan, membelok ke timur (Pegunungan
Baturagung) dan terus ke arah timur melewati Perbukitan Panggung, Plopoh,
Kambangan hingga di kawasan yang terpotong oleh jalan raya antara Pacitan –
Slahung. Litologi yang terdapat di satuan morfologi ini adalah batupasir dan
breksi vulkanik dan batuan beku dari Formasi Semilir, Nglanggran atau Wuni dan
Besole.
2.
Satuan Dataran tinggi
Daerah ini
meliputi daerah Gading, Wonosari, Playen hingga Semanu. Daerah ini rata-rata
memiliki ketinggian 200 m di atas muka laut, dengan topografi yang hampir datar
dan pada umumnya memiliki litologi batugamping.
3.
Satuan perbukitan kerucut
Daerah ini
meliputi daerah sebelah timur Parangtritis memanjang ke timur melewati daerah
Baron, terus ke arah timur melewati Punung hingga ke daerah Pacitan. Daerah ini
tersusun oleh bukit – bukit kecil berbentuk kerucut, tersusun oleh batugamping,
baik batugamping terumbu maupun batugamping klastik yang lain.
Gambar 3. Peta Geomorfologi Kabupaten Gunungkidul

Kondisi
geologi kabupaten Gunungkidul dipengaruhi oleh keberadaan dari kars dari
pegunungan seribu. Kira-kira 74% dari daerah yang berasal dari pembentukan batu
gamping. Di sebelah barat berbatasan dengan kabupaten Bantul, ada zona
lipatan dan zona patahan) yang juga secara fisik merupakan rintangan
terhadap akses ke Kabupaten Gunungkidul. Di zone yang utara (sepanjang
pegunungan Baturagung Mountain), secara geologi merupakan rangkaian pembentukan
pegunungan andesit (Gunungwungkal, Wuni, Semilir, Nglangran dan Mandalika). Berdasarkan peta geologi, kondisi batuan di Kabupaten
Gunungkidul dapat dibedakan atas: Formasi Kepek (Tmpk), Formasi Wonosari – Punung (Tmwl), Formasi Oyo
(Tmo), Formasi Sambipitu (Tms), Formasi Nglanggran (Tmng), dan Formasi Kebo Butak (Tomk).
Gambar 4. Peta Geologi Kabupaten Gunungkidul

Kondisi
geologis yang berbeda di kabupaten gunungkidul berpengaruh terhadap pembentukan
tanah di masing-masing wilayah. Jenis
tanah di wilayah Kabupaten Gunungkidul cukup beragam, dengan rincian sebagai berikut:
a.
Latosol,
dengan batuan induk kompleks sedimen tufan dan batuan vulkanik, yang terletak
pada wilayah bergunung-gunung, tersebar di wilayah Kecamatan Patuk bagian utara
dan selatan, Gedangsari, Ngawen, Semin bagian timur, dan Ponjong bagian utara
b.
Kompleks
latosol dan mediteran merah, dengan batuan induk batuan gamping, bentuk wilayah
bergelombang sampai berbukit, terdapat di wilayah Kecamatan Panggang,
Purwosari, Saptosari, Tepus, Tanjungsari, Semanu bagian Selatan dan Timur,
Rongkop, Girisubo, serta Ponjong bagian Selatan.
c.
Asosiasi
mediteran merah dan renzina, dengan batuan induk batu gamping, bentuk wilayah
berombak sampai bergelombang, terdapat di wilayah Kecamatan Ngawen bagian
selatan, Nglipar, Karangmojo bagian barat dan utara, Semanu bagian barat,
Wonosari bagian timur, utara dan selatan, Playen bagian barat dan utara, serta
Paliyan bagian selatan.
d.
Grumosol
hitam, dengan batuan induk batu gamping, bentuk wilayah datar sampai bergelombang, terdapat di wilayah Kecamatan
Playen bagian selatan, Wonosari bagian barat, Paliyan bagian utara, dan Ponjong
bagian selatan.
e.
Asosiasi
latosol merah dan litosol, dengan bahan induk tufan dan batuan vulkanik
intermediet, bentuk wilayah bergelombang sampai berbukit, terdapat di wilayah
Kecamatan Semin bagian utara, Patuk bagian selatan, dan Playen bagian barat.
Tekstur tanah di Kabupaten
Gunungkidul dibedakan atas dasar komposisi komponen pasir, debu dan lempung,
sehingga secara garis besar dipilah menjadi tekstur kasar, sedang dan halus.
Gambar 5.
Peta Jenis Tanah Kabupaten Gunungkidul

Curah hujan rata-rata Kabupaten
Gunungkidul sebesar 1382 mm dengan jumlah hari hujan rata-rata 89 hari. Bulan
basah 4-5 bulan, sedangkan bulan kering berkisar antara 7-8 bulan. Musim hujan
dimulai pada bulan Oktober-Nopember dan berakhir pada bulan Maret-April setiap
tahunnya. Puncak curah hujan dicapai pada bulan Desember-Februari. Wilayah
Kabupaten Gunungkidul bagian utara merupakan wilayah yang memiliki curah hujan
paling tinggi dibanding wilayah tengah dan selatan, sedangkan wilayah
Gunungkidul bagian selatan mempunyai awal hujan paling akhir.
Suhu udara
rata-rata harian Kabupaten Gunungkidul adalah 27,7° C, dengan suhu minimum
23,2°C dan suhu maksimum 32,4° C. Kelembaban nisbi di Kabupaten Gunungkidul
berkisar antara 80-85%. Kelembaban nisbi ini bagi wilayah Kabupaten Gunungkidul
tidak terlalu dipengaruhi oleh tinggi tempat, tetapi lebih dipengaruhi oleh
musim. Kelembaban tertinggi terjadi pada bulan Januari-Maret, sedangkan
terendah pada bulan September.
Gambar 6. Peta Curah
Hujan Kabupaten Gunungkidul

terimakasih
BalasHapusSaya digunungkidul (ponjong) sebagai orang pendatang, setelah saya amati diberbagai bangunan diponjong baik bangunan sekolah maupun rumah warga, sebagian dari mereka rerak dibagian pondasi, tembok dan lain, sebenarnya apa faktor penyebabnya ya? Apakah tekstur tanahnya yg bergerak? Atau proses pembangunannya yang tidak tepat? Mohon pencerahannya?
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusdi Gunung Kidul banyak sekali kuliner dan juga wisata keren
BalasHapus